PENCURI SANDAL KODOK

Pada hari Senin, semua orang sibuk melakukan aktivitasnya. Termasuk dua anak ini, Wulan dan Villa yang sedang melamar pekerjaan. Karena lelah, mereka memutuskan untuk mencari kos-kosan terdekat.

Wulan       : “Assalamu’alaikum.” (sambil mengetuk pintu)

Ibu Kos    : “Wa’alaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?” (merasa bingung siapa yang datang)

Villa          : “Begini Bu, kami dari kemarin melamar pekerjaan tapi sulit untuk  mendapatkannya. Untuk sementara kami ingin mencari kos – kosan, kira-kira dimana ya Bu?” (dengan menampakkan wajah kebingungan)

Ibu Kos    : “Kebetulan saya membuka kos-kosan dirumah ini. Tapi tinggal satu kamar yang kosong. Bagaimana?” (dengan ramah)

Villa          : “Tidak apa-apa Bu, yang penting cukup untuk kami berdua.” (sambil tersenyum)

Ibu Kos    : “Ya sudah kalau begitu, mari saya antar ke kamar kalian.” (sambil melangkah mengantarkan mereka ke kamar)

Wulan       : “Ibu disini tinggal dengan siapa saja?” (sambil melihat-lihat ada siapa saja disana)

Ibu Kos    : “Saya tinggal bersama anak saya dan satu anak yang mengekos di sini.

Putriiii.. Sivaaaa…” (sambil memanggil keduanya)

Putri&Siva : “Ada apa Bu?” (sambil berlari menuju Ibu Kos)

Ibu Kos    : “Perkenalkan, ini Siva anak saya dan ini Putri yang ngekos disini .” (sambil menunjuk Siva dan Putri)

Wulan       : “Perkenalkan aku Wulan, dan ini temanku, Villa.” (sambil memperkenalkan diri)

Ibu Kos    : “Ya sudah kalau begitu, tolong antar mereka ke kamar yang kosong ya!” (sambil menyuruh Siva dan Putri)

Putri&Siva : “Okeee..” (sambil mengangkat kedua jempolnya)

Sesampainya di kamar, Wulan dan Villa mengeluarkan semua barang yang telah ada di dalam koper tersebut. Villa meletakkan sandal kodok baru pemberian dari mamanya di luar kamarnya.

Keesokan harinya, Wulan dan Villa bangun pagi karena mau belanja ke toko dekat rumah ibu kos. Mereka membeli peralatan mandi dan ingin sarapan di luar.

Villa          : “Bu, saya dan Wulan mau pergi sebentar ya. (pamit Villa)

Lho, sandalnya mana? Kok hilang? Kemarin kan aku letakkan disini.

Ibuuuu, kelihatan sandal kodok tidak?” (dengan wajah kebingungan dan setengah teriak)

Mendengar teriakan Villa itu, Ibu Kos pun datang dan disusul oleh kedatangan Putri dengan terburu-buru.

Ibu Kos    : “Sandal kodok? Ibu tidak  melihatnya, barangkali ada yang meminjam.” (Sambil mencarikan sandal Villa)

Villa          : “Lan aku minta maaf ya karena tidak jadi pergi, sandalku hilang.” (Sambil bingung mencari sandalnya.)

Wulan       : “Hmm.. Aku curiga dengan Siva, kemarin waktu kamu meletakkan sandal di depan, raut wajahnya terlihat mencurigakan.” (Dengan wajah bingung)

Villa          : “Iya, aku juga curiga karena dari awal aku memang tidak suka dengan dia.” (sambil berbisik)

Putri          : “Daripada kita menuduh tanpa bukti, lebih baik kita buktikan saja kebenarannya!” (dengan wajah serius)

Villa          : “Hmmm.. kamu benar, bagaimana kalau kita jebak saja dia?” (sambil mengajak Wulan dan putri)

Wulan       : “Ide yang bagus, tapi bagaimana caranya?” (dengan wajah bingung)

Putri          : “Kamu tenang saja, biar semua persiapannya aku yang mengurus.” (mengatakan dengan tenang)

Wulan       : “Baiklah, kapan kita menjebak Siva?” (sambil menampakan wajah bingung)

Putri          : “Sekarang juga bisa” (suara lantang)

Merekapun mempersiapkan jebakan untuk Siva. Setelah jebakan itu dibuat, mereka menaruhnya di teras depan rumah, kemudian mereka bersembunyi agar tidak terlihat oleh Siva. Tidak lama kemudian Siva datang. Siva yang baru saja datang melihat ada sepasang sandal yang ditaruh di depan rumahnya berniat untuk mengambil sandal itu.

Siva          : “Ini sandal siapa ya? Lebih baik aku ambil saja ahh,,” (sambil sedikit berbisik dan sedikit mengendap-endap)

Siva pun akhirnya mengambil sepasang sandal yang telah Wulan dan Villa letakkan di depan rumah ibu kos. Tidak lama kemudian Wulan dan Siva keluar dari persembunyiannya.

Wulan       : “Hayyoo.. ketahuan kamu.” (sambil menunjuk Siva)

Villa          : “Ternyata kamu yang mencuri sandalku ya.” (dengan nada marah)

Siva          : “Bukan… bukan aku kok yang mencuri sandalmu” (dengan suara gagap)

Villa          : “Siapa lagi kalau bukan kamu, kan hanya kamu yang ada di sini.” (dengan menunjuk muka Siva)

Siva          : “Kamu kenapa sih menuduh aku jadi pencuri sandal, dosa tau kamu menuduh aku.”(membela dirinya)

Putri          : “Kami tidak menuduh, tapi memang kenyataan kalau kamu yang mengambil sandal” (suara tidak terlalu kasar)

Siva          : “Kalian kenapa sih menuduh aku terus? Aku kira kalian teman yang baik, ternyata tidak! Itu hanya hayalanku saja, aku tidak suka berteman dengan kalian lagi. Kamu juga Putri. Dulu kita sering main bareng, gara – gara kalian semua Putri jadi berubah.” (dengan menunjuk muka Villa dan Wulan)

Putri          : “Aku berubah gara-gara kamu yang tidak jujur.” (mengeluarkan suara lantang)

Siva          : “Aku kan sudah jujur kalau aku bukan pencurinya, memangnya kamu perlu bukti apalagi dari aku?” (membela diri)

Tiba-tiba saja Ibu Kos datang dan melerai mereka yang sedang bertengkar.

Ibu kos     :  “Ada apa ini kok malah bertengkar?” (melerai pertengkaran Siva dan Putri)

Wulan       : “Begini Bu, kami hanya meminta pengakuan dari anak ibu, karena setahu saya dia yang mencuri sandal Villa.” (menjelasakan masalah tersebut kepada Ibu Kos)

Ibu kos     : “Baiklah kalau begitu saya yang akan bertanya pada anak saya.

Siva, apa kamu yang mencuri sandal Villa?” (bertanya baik – baik pada anaknya)

Siva          : “Tidak bu, Siva tidak mencurinya.” (dengan nada pelan)

Putri          : “Mengaku sajalah kamu!” (meihat kearah Siva)

Ibu Kos    : “Lebih baik kamu jujur, nak!” (meminta pada siva)

Siva          : “Baiklah, aku mengaku salah. Aku yang mencuri sandal Villa. Aku menyukai sandal itu karena sandalnya lucu.” (sambil menundukkan kepala)

Ibu kos     : “Tapi mengapa kamu tidak bilang pada Ibu kalau kamu meyukai sandal Villa?”    (suara lantang)

Siva          : “Maafkan saya Bu, saya takut Ibu memarahi saya kalau saya minta di belikan sandal yang sama seperti Villa. Apakah kalian semua ingin memaafkan perbuatanku?” (merasa bersalah)

Villa          : “Baiklah kami akan memaafkan perbuatanmu” (dengan tersenyum)

Siva          : “Kalau begitu aku akan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku ini. Apakah kalian ingin menjadi temanku lagi?” (sambil memohon)

Villa          : “Tentu saja. Kita pasti berteman lagi kok.” (dengan tersenyum)

Semua      : “Akhirnya masalah selesai.” (dengan tersenyum bahagia)

Akhirnya pencuri sandal bolong itu sudah ditemukan yang ternyata pencurinya tidak lain adalah anak Ibu Kos, dan merekapun kembali berteman. Ibu kos yang melihat mereka hanya tersenyum senang karena anaknya sudah mengakui perbuatannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s