CONTOH SINOPSIS NOVEL

Sinopsis novel “ Matahari Di Atas Gili “

Kehangatan “Matahari Di Atas Gilli” yang tergambarkan pada Semburat wajah perempuan dalam cover depan, yang bagai matahari menyinari siluet perahu dan laut, seakan menjadi perkenalan awal pembaca pada sang tokoh utama, Suhada. Hangat, suguhan pertama yang dihidangkan. Seketika akan terbersit dalam benak bahwa ini adalah buku seorang perempuan. Antara Alice dan Karna Menatap Suhada dalam novel ini, bagaikan mengenang kisah “Alice in A Wonderland” dalam ujud yang lebih nyata dan dewasa. Suatu keputusan untuk melangkah masuk pada hal yang asing. Keberanian untuk menerima dan kepasrahan untuk mengarungi pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dan kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang diselipkan di celah-celah dinding masa lalu. Jejak yang tak akan pernah pulang ke masa kini. Pada awal cerita, lewat Suhada kecil, Lintang seperti membawa gugatan kanak-kanak pada umumnya. Gugatan tentang peranan orang-orang yang lebih tua -yang tanpa sadar- telah mengambil porsi terlalu besar atas milik kanak-kanak itu sendiri. Gugatan akan cinta yang terkesan rumit, di saat –sesungguhnya- amat sederhana. Juga penceritaan tentang kisah wayang “Karna”, yang seakan mengajak saya untuk memahami kerinduan Lintang akan makna kelahiran, pengasuhan, keberanian dan kepasrahan, keputusan, kepergian, dan kematian. Pertanyaan sekaligus jawaban para pengarung kehidupan. Makna yang terkandung sebagai zat inti yang ditawarkan novel ini. “Seolah ia yakin, diatas gunung itulah, ia akan mendapat jawaban tentang arti hidup seekor cacing.

Ia menangis seharian dan tak mau menyentuh makanannya. “Ceritakan padaku tentang duniamu, Mak”… “Ya! Dunia orang dewasa!Lebih jauh ke halaman-halaman berikutnya, tokoh Suhada dalam novel ini tetap membumi dengan membawa lengkap dua-kutub dan dua-ufuknya. Suhada yang padat dengan kelembutan hati sedari awal hingga akhir kisah, justru menjadi begitu ngotot untuk mengajar anak-anak Gilli karena kelembutan itu sendiri. Suhada bahkan mampu mencela Bu Lurah secara diam-diam. Seperti juga tokoh Bu Lurah dengan ego ‘nomor satu’-nya, ternyata juga memiliki belas kasih saat Suhada mencari tahu tentang Umi dan Pak Haji, mertuanya. Pak Haji yang keras perangai ternyata memiliki rintihan batin saat memukul Suamar. Suamar yang perkasa ternyata memiliki hati serapuh kaca. Tergambar apik saat ia kehilangan Suhada, dinding benteng hatinya dalam beberapa bab terakhir. Di sini terlihat secara wajar bahwa kekuatan manusia adalah juga kerapuhannya sekaligus.pada Suhada. “Orang hidup dalam dunia sekarang, dipikirkan apa kewajibannya, tahunya cuma hidup, ingat asal usulnya, asal hidup sendiri, hidup ada dua perkara, perkara pertama, kehidupan badan kasar –tubuh- dan badan halus yaitu jiwanya, semoga direnungkan, badan kasar dan badan halus, semua butuh makanan, yang dapat dipakai kebaikkan, yang besar manfaatnya, bukan makan yang dapat membawa kejelekan” Dan, siapa tokoh favorit saya?”katanya

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s